Sabtu, 31 Agustus 2013

LAPORAN PRAKTIKUM HAMA DAN PENYAKIT IKAN


LAPORAN PRAKTIKUM
HAMA DAN PENYAKIT IKAN
MODUL                     : BAKTERI
DOSEN                      : MULIATI, S.Pi, M.si
LABORAN                 : SENIATI, S.Pi
A.     BESSE A.Md.Pi
OLEH                         : KELOMPPOK B3
 
 



OLEH

KELOMPOK III B
1.      FIRDAUS
2.      ANDI PAMESSANGI
3.      ROSMA
4.      SULEMAN
5.      MANSYUR
6.      ANDI AKSAN

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2011


I.       PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bakteri merupakan satu sel tunggal atau uniseluler, tidak mempunyai kloropil,berkembang biak dengan cara pembelahan sel atau binner.karena tidk mempunyai klorofil,bakteri hidup sebagai saprofit atau sebagai jasad yang parasitic tempat hidupny6a tersebar dimana – mana,mulai dari udara,dalam tanah,air pada bahan makanan,tumbuhan ataupun pada tubuh manusia dan hewan.Bakteri juga merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain .Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada  tempat-tempat yang ekstrim.Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik (mikroskopis).
v  Ciri-ciri Bakteri
Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain yaitu :
1.      Organisme multiselluler
2.      Umumnya tidak memiliki klorofil
3.      Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya        memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.
4.      Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam
5.      Hidup bebas atau parasit
6.      Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan

1.2. Tujuan praktikum
1. Mampu mengidentifikasi bakteri yang menyerang pada ikan beserta organ targetnya
2. Mengetahui teknik isolasi bertingkat.


II.    METODOLOGI

2.1. Waktu Pelaksanaan
Hari / tanggal              : Kamis, 29 Desember 2011
Waktu                         : 08.00 – 10.30 Wita
Tempat                        : Laboratorium Hama dan Penyakit Ikan

2.2. Alat dan Bahan
Alat :
v  Bunsen
v  Talenan
v  Objek glass
v  Gegep
v  Ose
v  Microskop
Bahan :
v  Ikan mas
v  Kapas atau tissue
v  Media PCA
v  Kristal violet
v  Lugol
v  Alcohol
v  Sapranin
v  Aquades

2.3. Prosedur Kerja
Ø  Menyediakan ikan lalu mengidentifikasi ikan beserta organ targetnya
Ø  Membedah ikan pada bagian ginjal kemudian dikultur pada media PCA
Ø  Adapun cara mengkultur :
·         Mensterilkan meja, peralatan dan tangan dengan alcohol
·         Menyalakan bunsen lalu bedah ikan sesuai dengan organ targetnya
·         Mengambil ose kemudian diaseptis lalu ditusukkan kebagain organ target
·         Goreskan pada media PCA, inkubasi pada suhu 30OC selama 24 jam dengan metode kwadran.
·         Adapun metode kwadran yaitu :

Ø  Setelah 24 jam lakukan pengamatan bentuk koloni dan sifat bakterinya (reaksi gramnya) 
Ø  Pilih koloni yang terpisaØ  Amati pengamatan koloni mengenai :
-          Bentuk           
-          Elevasi
-          Warna
-          Tepian
Ø  Melakukan isolasi untuk mengidentifikasi jenis bakteri
Ø  Cara isolasi :
·         Pilih koloni yang terpisah pada media PCA
·         Nyalakan Bunsen lalu pijarkan ose, diamkan beberapa detik
·         Mengambil koloni terpisah pada media PCA dengan ose kemudian goreskan pada media PCA yang baru diamkan selama 24 jam, amati perkembangannya
Ø  Apabila dalam pengamatan masih terlihat koloni bakteri yang berbeda maka melakukan isolasi kembali pada media miring
Ø  Isolasi pada media miring
·         Pilih koloni yang terpisah pada media PCA
·         Nyalakan Bunsen lalu pijarkan ose, diamkan beberapa detik
·         Mengambil koloni terpisah pada media PCA dengan ose kemudian goreskan pada media miring, diamkan selama 24 jam, amati perkembangannya.
Ø  Mengidentifikasi jenis bakteri dalam praktikum ini dilakukan dengan cara biomolekuler yaitu dengan melihat reaksi gram + atau – dan memperhatikan bentuk sel, type, dan penggandaan sel. Ada 2 metode dalam biomolekuler yaitu uji KOH 3 % dan Pewarnaan gram
-          UJI KOH 3%
*      Mengambil objek glass
*      Tambahkan dengan KOH 3% sebanyak 1 – 2 tetes
*      Nyalakan Bunsen kemudian pijarkan ose
*      Ambil biakan bakteri dengan ose lalu homogenkan
*      Amati, apabila berlendir maka (–) dan apabila tidak berlendir maka (+)
-          PEWARNAAN GRAM
*      Sterilkan alat dan bahan yang digunakan
*      Ambil objek glass
*      Ambil bakteri dengan ose, tambahkan 1 tetes aquades homogenkan serata mungkin, lalu fiksasi
*      Lakukan pewarnaan dengan :
·         Tuang kristal violet pada objek glass, homogenkan selama 1 menit selanjutnya bilas dengan air mengalir sampai semua zat warna hilang, sisa air yang tergenang serap dengan tissue.
·         Tetesi dengan larutan lugol, homogenkan selama 1 menit selanjutnya bilas dengan air mengalir sampai semua zat warna hilang, sisa air yang tergenang serap dengan tissue
·         Rendam objek glass pada larutan alcohol selama 15 detik, bilas dengan air mengalir kemudian sisa air serap dengan tissue
·         Tetesi dengan larutan sapranin, homogenkan selama 1 menit selanjutnya bilas dengan air mengalir sampai semua zat warna hilang, sisa air yang tergenang serap dengan tissue
·         Amati objek glass dibawah microskop dengan pembesaran 100,  beri minyak imersi kemudian teteskan pada objek glass.


III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil
Tabel 1. Hasil dari pengamatan pengkulturan bakteri Streptococcus sp.
NO
BENTUK PENGAMATAN
HASIL
1.
Bentuk
Bulat
2.
Tipe penggandengan
Haploid
3.
Warna
Ungu

3.2. Pembahasan
Dalam pengamatan ini adapun bakteri yang kami temukan yaitu Streptococcus sp. Untuk mengidentifikasi bakteri langkah yang perlu dilakukan yaitu pengkulturan pada media PCA, karena ukurannya  kecil dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Metode yang digunakan dalam pengkulturan di Media PCA adalah metode kwadran, metode kwadran yaitu membagi media menjadi beberapa bagian supaya mempermudah untuk menggores.
Dalam mengidentifikasi bakteri dikenal istilah isolasi bertingkat, isolasi bertingkat adalah kegiatan mengkultur pada media PCA kemudian dilanjutkan untuk diisolasi, apabila dalam isolasi terdapat koloni yang berbeda dilakukan isolasi pada media miring.
Untuk mengetahui apakah bakteri tersebut (+) atau (-) maka dilakukan pewarnaan gram sebagai lanjutan kegiatan identifikasi. Adapun tujuan dari pewarnaan tersebut untuk Kristal violet sebagai pemberi zat warna utama pada bakteri, Larutan Lugol sebagai menyerap tambahan, alcohol sebagai pemucatan supaya lebih mudah mengamati, sapranin sebagai zat warna pembanding. Setelah dilakukan pewarnaan gram lalu dilakukan pengamatan dibawah mikroskop. Hasil yang didapat yaitu gram positif karena selnya berwarna ungu.
Bentuk sel bakteri yaitu bulat (kokus) dan tipe penggandengan selnya tunggal (haploid). Salah satu bakteri yang menyerang pada ikan yaitu bakteri Streptococcus sp. merupakan bakteri gram positif, Bakteri gram-positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Koloni bakteri ini berwarna ungu, kecil, bulat, dan tipe penggandengan haploid.
 Ikan-ikan yang telah terkontaminasi bakteri ini dapat ditandai dengan melihat ciri-ciri sebagai berikut :
·         Lesi terjadi secara subkutan dengan pembengkakan sehingga menyebabkan ulcerative dermatitis (furunculosis).
·         Pembengkakan biasanya menjadi luka terbuka berisi nanah, darah, dan jaringan yang rusak di tengah luka tersebut terbentuk cekungan (bentuknya seperti kaldera).
·         Pada serangan akuttanda-tanda yang menyeluruh mungkin tidak tampak.
·         Hemorhagi pada dasar sirip dan dan sirip dorsal geripis.
·         Mata menonjol (eksopthalmia).
·         Warna tubuh menjadi lebih gelap.

Setelah melihat ciri-ciri tersebut,sebaiknya ikan yang memiliki ciri itu segara diangkat dan diberi penanganan atau dimusnahkan bila telah pada keadaan yang parah. Ini dilakukan agar ikan-ikan yang lain tidak terkontaminasi dan ikut sakit. Namun itu adalah cara penanganan bila ikan telah terkontaminasi bakteri dan sakit. Selain itu,  ada cara untuk pengendalian penyakit sebelum penyakit itu menyerang ikan. Caranya adalah sebagai berikut :
1.      Pelaksanaan budidaya yang baik
2.      Penggunaan hewan yang secara genetis resisten terhadap penyakit
3.      Kecukupan pakan, jika perlu digunakan pula pakan tambahan
4.      Penggunaan vaksin
5.      Penggunaan imunostimulan non-spesifik
6.      Penggunaan senyawa-senyawa antimikroba
7.      Penanganan air
8.      Mengisolasi hewan yang terinfeksi
9.      Penggunaan probiotik atau control biologis

Jika cara pengendalian penyakit ini telah dilakukan dengan baik, maka kemungkinan ikan akan terkontaminasi dengan bakteri yang menyebabkan penyakit dapat ditekan. Namun dari cara-cara di atas, aspek yang paling penting adalah kecukupan pakan dan penanganan air. Jika kualitas air sudah baik dan pakan cukup, maka ikan akan sehat dan dapat resisten terhadap penyakit.



IV.  KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Ikan yang telah terserang bakteri diisolasi untuk diamati jenis bakteri apa yang menyerang ikan tersebut. Setelah pengkulturan bakteri dengan organ target tertentu, maka akan diadakan klasifikasi untuk mengetahui lebih jelas bakteri yang menyerang ikan tersebut. Setelah itu, diadakan pengobatan untuk menyembuhkan ikan tersebut di media isolasi.
4.2. Saran
Kegiatan identifikasi dilaboratorium harus dalam keadaan steril, higenies, dan hati – hati dalam mengisolasi jangan sampai media PCA terluka