LAPORAN TEKNIK
PEMBENIHAN UDANG
Teknologi
Pembenihan Lobster Air Tawar (Cherax
quadricarinatus)
DOSEN : Ir. Andi Yusuf Lingka, M.P
TEKNISI : Satriani, S.Pi
Suriadi,
S.Pi
Syamsulia, S.Pi
Oleh
FIRDAUS
10 24 345
PEMBENIHAN
BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2013
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Lobster air tawar merupakan
kelompok udang yang hidup
di air tawar. Hewan ini kerap dijumpai diperairan sungai, rawa, dan danau.
Lobster air tawar ini tergolong dalam kelas udang-udangan (Crustacea) dan ordo
Decapoda (hewan berkaki sepuluh).
Menurut Agung Lukito dalam bukunya
dia mengatakan bahwa selama hidupnya lobster air tawar mengalami beberapa tahap
yaitu : penetasan, burayak, dewasa, dan kawin.
Dalam kegiatan
praktikum ini telah dilakukan pembenihan lobster air tawar selama dua bulan
lebih yang dimana kegiatan itu dimulai dari pemeliharaan induk sampai
pemeliharaan benih. Dengan dilakukannya praktikum ini kami banyak mendapat
pengetahuan mengenai teknik pembenihan lobster air tawar dengan mengaplikasikan
teori yang didapatkan pada saat kuliah.
1.2.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukan kegiatan praktikum
ini yaitu untuk mengetahui teknik pembenihan lobster air tawar.
II. METODOLOGI
2.1. Waktu Dan Tempat
Kegiatan praktikum ini dilaksanakan selama 2 bulan lebih mulai
dari bulan November 2012 sampai bulan Januari 2013 di Laboratorium Reproduksi
dan Genetika Ikan, Jurusan Budidaya Perikanan, Kampus Politeknik Pertanian
Negeri Pangkep.
2.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum pembenihan lobster air tawar ini yaitu :
|
Alat :
-
Akuarium
-
Aerator
-
Pipa paralon
-
Bak Fiber
|
Bahan :
-
Induk Lobster
-
Air tawar
-
Pakan (Cacing tanah &
toge)
-
Seser
|
2.3. Prosedur Kerja
a) Persiapan Wadah
Persiapan wadah meliputi kegiatan :
1.
Wadah
dibersihkan
2.
Pengeringan
3.
Pengisian
air jernih
4.
Pemberian
alat pelindung berupa pipa paralon, roster dan kakaban
5.
Pemberian
aerasi
b)
Seleksi
calon induk
Kriteria calon induk yaitu umur mulai 8
bulan, ukuran > 12 cm dengan bobot untuk betina > 40 gram sedangkan
jantan > 50 gram, induk harus berasal dari populasi dengan pertumbuhan
tercepat dan mengetahui asal-usul induk.
c) Pemeliharaan
induk
Kegiatan pemeliharaan induk meliputi :
1.
Induk
ditempatkan pada wadah pemeliharaan dengan kepadatan 25 ekor/wadah
2.
Jantan
dan betina terpisah
3.
Pakan
yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
4.
Penyiponan
dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
5.
Pergantian
air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)
d)
Pemijahan
Kegiatan pemijahan meliputi :
1.
Sex
ratio adalah 3 jantan : 5 betina
2.
Pemijahan
alami
3.
Pakan
yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
4.
Penyiponan
dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
5.
Pergantian
air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)
e) Pengeraman dan penetasan telur
Kegiatan pengeraman dan penetasan telur
meliputi :
1.
Induk
yang mengerami telur dipindahkan ke akuarium pengeraman
2.
Kepadatan
2-3 ekor induk betina per akuarium dengan tahap perkembangan yang sama
6.
Pakan
yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
7.
Penyiponan
dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
3.
Pergantian
air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)
4.
Masa perkembangan
telur berkisar 42 hari
5.
Membersihkan
telur atau benih yang tersisa dalam tubuh induk
6.
Induk
yang sudah diambil dirontokkan benihnya, kemudian dipindahkan ke wadah
pemijahan.
f) Pemeliharaan benih
Kegiatan pemeliharaan benih meliputi :
1.
Merawat
benih yang baru dilepas oleh induk betina sampai benih siap ditebar di tempat
pendederan
2.
Dilakukan
dalam akuarium penetasan selama 10 – 14 hari
3.
Pakan
yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
4.
Penyiponan
dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
5.
Pergantian
air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Table 1. Ukuran induk lobster air tawar
|
Sampel
kelompok
|
Batina
|
Jantan
|
||
|
Panjang
(cm)
|
Berat
(gr)
|
Panjang
(cm)
|
Berat
(gr)
|
|
|
1
|
11.5
|
37
|
12
|
53
|
|
2
|
11
|
35
|
13
|
56
|
|
3
|
13
|
46
|
15
|
85
|
|
4
|
|
|
|
|
|
Rata-rata
|
|
|
|
|
Table
2. Ukuran induk dan jumlah benih yang dihasilkan
|
Sampel
|
Ukuran induk
|
Jumlah benih (ekor)
|
Jumlah benih/ gr induk
|
Jumlah benih/ cm induk
|
|
|
Berat (gr)
|
Panjang (cm)
|
||||
|
1
|
48
|
13
|
226
|
5
|
17
|
|
2
|
40
|
11
|
165
|
4
|
15
|
|
Rata-rata
|
44
|
12
|
195
|
4
|
16
|
Table
3. Perkembangan telur
|
No
|
Tanggal pengamatan
|
Umur telur (hari)
|
Keterangan
|
|
1
|
15 November 2012
|
1
|
Berwarna hijau kekuningan
|
|
2
|
22 November 2012
|
8
|
Berwarna kuning
|
|
3
|
29 November 2012
|
15
|
Berwarna orange
|
|
4
|
6 Deseember 2012
|
22
|
Orange kemerah-merahan
|
|
5
|
13 Desember
2012
|
27
|
Bintik mata
|
|
6
|
15 Desember 2012
|
29
|
Larva sudah menetas dan terbentuk terbentuk
sempurna
|
Table
4. ukuran dan jumlah benih lobster air
tawar dari induk yang
beratnya
48 gr.
|
Sampling ke
|
Hari/ tanggal pengamatan
|
Umur (hari)
|
Jumlah benih (ekor)
|
Berat rata-rata (gr/ekor)
|
SR (%)
|
|
1
|
Senin, 3/12/12
|
1
|
226
|
0,019
|
100
|
|
2
|
Kamis,13/12/12
|
10
|
84
|
0,049
|
37,16
|
|
3
|
Minggu,23/12/12
|
20
|
44
|
0,09
|
19,46
|
|
4
|
Kamis, 1/01/12
|
30
|
40
|
0,14
|
17,70
|
Table
5. ukuran dan jumlah benih lobster air
tawar dari induk yang
beratnya 40 gr
|
Sampling ke
|
Hari/ tanggal pengamatan
|
Umur (hari)
|
Jumlah benih (ekor)
|
Berat rata-rata (gr/ekor)
|
SR (%)
|
|
1
|
Kamis,
3/01/13
|
1
|
168
|
0,036
|
100
|
|
2
|
Kamis, 13/01/13
|
11
|
136
|
0,057
|
80,95
|
|
3
|
Kamis, 23/01/13
|
21
|
94
|
0,238
|
55,95
|
|
4
|
kamis. 01/02/13
|
31
|
60
|
0,3575
|
35,71
|
Table
6. Kualitas air media
pemeliharaan lobster air tawar
|
No
|
Parameter
|
Kualitas air
|
||
|
Pemijahan
|
Pengeraman
|
Benih
|
||
|
1
|
Suhu (oC)
|
27 OC
|
27,5 OC
|
25
|
|
2
|
DO (ppm)
|
5,11
|
5,25
|
5,31
|
|
3
|
Ph
|
8,17
|
8,8
|
8,07
|
3.2. Pembahasan
Menurut teori calon induk yang
baik dari lobster air tawar harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Umur
mulai 8 – 18 bulan
- Ukuran
>12 cm
- Bobot,
untuk betina >40 gram sedangkan jantan >50 gram.
- Berasal
dari populasi dengan pertumbuhan tercepat
- Mengetahui
asal usul induk
Sedangkan induk lobster yang kami kawinkan yaitu
rata-rata beratnya untuk betina 40 gram sedangkan induk jantan rata-rata
beratnya 60 gram. Induk jantan yang kami pelihara lebih besar daripada induk
betina, hal ini sesuai dengan teori yang diberikan oleh Ir. Andi Yusuf Lingka,
MP. Semakin berat bobot induk betina maka semakin banyak telur yang dihasilkan
begitupun sebaliknya.
Wadah yang kami gunakan untuk pemeliharaan induk yaitu
bak fiber dengan volume 1 ton dengan jumlah induk yang dipelihara sebanyak 25
ekor dengan sex ratio adalah 3 jantan dan 5 betina. Selama pemeliharaan induk
dilakukan siphon sebelum pemberian pakan karena banyak kotoran yang mengendap
di dasar bak seperti sisa pakan dan feses lobster. Setelah selesai disiphon
maka diberikan pakan sesuai dengan dosis dan jumlah lobster yang dipelihara.
Pakan yang diberikan yaitu 5% dari bobot induk dengan frekuensi pemberian pakan
25% untuk pagi hari dan 75% untuk sore hari, pakan lebih banyak diberikan pada
sore hari karena lobster aktif pada malam hari mencari makanan. Adapun pakan
yang diberikan selama pemeliharaan yaitu toge, cacing tanah dan keong. Cara
pemberian pakan yaitu dengan cara mencincang atau dipotong kecil-kecil sesuai
bukaan mulut induk lobster yang dipelihara.
Dalam pemeliharaan induk perlu juga dilakukan
pengontrolan kualitas air berupa Oksigen, pH, dan suhu supaya media yang
digunakan tetap terjaga serta hama dan penyakit tidak bisa menyerang induk yang
dipelihara.
Setelah induk lobster betina bertelur dan mengeram
secepatnya dipindahkan ke akuarium supaya tidak diganggu dengan induk yang
lain. Induk yang mengeram dilakukan pemeliharaan yang baik supaya larva yang
dihasilkan berkualitas. Pada saat pengeraman dilakukan pemberian pakan 2 kali
sehari dan penyiponan sebelum pemberian pakan. Kemudian jika kualitas air tidak
bagus dilakukan pergantian air sebanyak 70 % supaya tidak terjadi penurunan
kualitas air yang bisa menyebabkan induk stress.
Berdasarkan data tabel 2 tentang ukuran induk dan jumlah
benih yang dihasilkan bahwa ukuran induk sangat mempengaruhi jumlah benih yang
dihasilkan, jika bobot induk besar maka jumlah benih yang dihasilkan juga
banyak, sedangkan jika bobot induk kecil maka jumlah benih yang dihasilkan juga
sedikit.
Pada saat pemeliharaan perkembangan telur berlangsung
selama 29 hari, sedangkan menurut teori perkembangan telur berlangsung selama
42 hari. Hal membuktikan bahwa teori tidak selamanya sama dengan praktek di
lapangan. Yang menunjang mungkin lebih cepat menetas telur lobster yang
dipelihara karena pengontrolan yang baik seperti frekuensi dan jenis pakan yang
diberikan serta kualitas air yang bagus.
Selama kegiatan pemeliharaan larva lobster ada dua
akuarium yang dipakai. Untuk akuarium 1 dengan bobot induk 48 gram menghasilkan
larva sebanyak 226 ekor pada minggu pertama. Sedangkan akuarium ke 2 dengan
bobot induk 40 gram menghasilkan larva sebanyak 168 ekor pada minggu pertama.
Pada akuarium 1 benih yang dihasilkan selama 30 hari
pemeliharaan yaitu 40 ekor dengan berat rata-rata per ekor 0,14 gram dan SR
17,70%. Sedangkan akuarium ke 2 benih yang dihasilkan selama 30 hari
pemeliharaan yaitu 60 ekor dengan berat rata-rata 0,35 gram dan SR 35,71%.
Jika dibandingkan akuarium 1 dengan akuarium yang ke 2
yang lebih bagus pertumbuhannya adalah akuarium yang ke 2. Karena kenapa? Pada akuarium
1 terjadi padat penebaran larva yang tinggi yang mengakibatkan larva saling
memakan karena sifat biologi larva lobster air tawar bersifat karnivor. Selain
itu terjadi juga persaingan oksigen dan makanan karena larva yang dipelihara
dalam akuarium banyak. Penebaran larva yang tinggi juga berpengaruh pada berat
benih per ekornya. Pengaruhnya yaitu benih mengalami pertambahan berat yang
sedikit. Sedangkan pada akuarium ke 2 padat penebaran larva yang rendah yang
mengakibatkan larva atau benih pertumbuhannya cepat karena tidak terjadi
persaingan makanan dan oksigen.
Grafik
hubungan antara umur dan berat benih lobster air tawar dengan berat induk 48
gram.
Grafik
hubungan antara umur dan berat benih lobster air tawar dengan berat induk 40
gram.
Pengendalian
Penyakit
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah
adanya serangan hama di lokasi pembudidaya lobster air tawar sebagai berikut.
1. Bak atau akuarium dicuci bersih
2. Melakukan
filterasi, yakni air yang masuk ke areal bak
harus melalui filter terlebih dahulu sehingga bibit-bibit hama yang masih kecil
dapat tertahan oleh filter tersebut.
3. Memberantas
hama, baik secara mekanik, biologis, maupun secara kimiawi.
Setiawan (2006) mengungkapkan
bahwa beberapa penyakit yang sering menyerang lobster dan menyebabkan kematian
adalah sebagi berikut :
1.Saprolegnia dan Achyla
2.Cacing
jangkar
3.Argulus foliaceus
Secara
umum hama budidaya lobster air tawar berupa predator,hama lainnya yang
biasmenyerang diantaranya tikus,ular,ikan air tawar dan burung. Jenis ikan air
tawar yang perlu dihindari adalah lele,gabus,dan gurami yang memakan lobster
yang sedang berganti kulit (Kusman,2006).
Selama
pemeliharaan lobster air tawar pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan
yaitu :
a)
Sebelum air
digunakan terlebih dahulu dilakukan filter fisik dengan menyaring air dengan
saringan dan filter bilogis dengan menggunakan alat ultraviolet.
b)
Sebelum induk
dipindahkan ke akuarium pengeraman dan penetasan induk terlebih dahulu direndam
pada garam selama 2-3 menit supaya telur tidak terserang jamur.
c)
Pada saat
pemeliharaan larva sampai benih diberikan larutan methilin blue sebanyak 1
tetes gunanya supaya jamur tidak tumbuh di akuarium pemeliharaan.
IV. PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan pada halaman sebelumnya dapat saya simpulkan bahwa bobot induk
lobster air tawar sangat berpengaruh terhadap jumlah telur dan benih yang
dihasilkan. Selain itu dengan kepadatan larva atau benih dalam akuarium pemeliharaan
sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan lobster air tawar yang dimana dengan
padat penebaran yang banyak bisa menghambat pertumbuhan lobster dan terjadi
persaingan mendapat makanan, sedangkan padat penebaran yang sedikit bisa
mempercepat pertumbuhan lobster karena tidak terjadi persaingan mendapat
makanan.
4.2. Saran
Dengan selesainya kegiatan praktikum ini saya menyarankan bahwa dalam
melakukan pembenihan lobster air tawar perlu dilakukan pengontroran setiap
hari.
titanium earring posts - TITIAN ENTRIES
BalasHapusTinted in titanium blue two pieces and made columbia titanium pants with titanium band rings three or four mokume gane titanium blades and one end of each pack. Two titanium pans pieces (1) or two (1) of each pack and a metal