Sabtu, 27 Juli 2013

TEKNIK PEMBENIHAN LOBSTER

LAPORAN TEKNIK PEMBENIHAN UDANG

Teknologi Pembenihan Lobster Air Tawar  (Cherax quadricarinatus)

DOSEN          : Ir. Andi Yusuf Lingka, M.P
TEKNISI       : Satriani, S.Pi
                           Suriadi, S.Pi
                          Syamsulia, S.Pi





Oleh


FIRDAUS
10 24 345
PEMBENIHAN

BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2013


I.       PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Lobster air tawar merupakan kelompok udang yang hidup di air tawar. Hewan ini kerap dijumpai diperairan sungai, rawa, dan danau. Lobster air tawar ini tergolong dalam kelas udang-udangan (Crustacea) dan ordo Decapoda (hewan berkaki sepuluh).
Menurut Agung Lukito dalam bukunya dia mengatakan bahwa selama hidupnya lobster air tawar mengalami beberapa tahap yaitu : penetasan, burayak, dewasa, dan kawin.
Dalam kegiatan praktikum ini telah dilakukan pembenihan lobster air tawar selama dua bulan lebih yang dimana kegiatan itu dimulai dari pemeliharaan induk sampai pemeliharaan benih. Dengan dilakukannya praktikum ini kami banyak mendapat pengetahuan mengenai teknik pembenihan lobster air tawar dengan mengaplikasikan teori yang didapatkan pada saat kuliah.
1.2.            Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukan kegiatan praktikum ini yaitu untuk mengetahui teknik pembenihan lobster air tawar.


II.  METODOLOGI
2.1. Waktu Dan Tempat
Kegiatan praktikum ini dilaksanakan selama 2 bulan lebih mulai dari bulan November 2012 sampai bulan Januari 2013 di Laboratorium Reproduksi dan Genetika Ikan, Jurusan Budidaya Perikanan, Kampus Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
2.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum pembenihan lobster air tawar ini yaitu :
Alat :
-          Akuarium
-          Aerator
-          Pipa paralon
-          Bak Fiber
Bahan :
-          Induk Lobster
-          Air tawar
-          Pakan (Cacing tanah & toge)
-          Seser
2.3. Prosedur Kerja
a)      Persiapan Wadah
Persiapan wadah meliputi kegiatan :
1.      Wadah dibersihkan
2.      Pengeringan
3.      Pengisian air jernih
4.      Pemberian alat pelindung berupa pipa paralon, roster dan kakaban
5.      Pemberian aerasi

b)      Seleksi calon induk
Kriteria calon induk yaitu umur mulai 8 bulan, ukuran > 12 cm dengan bobot untuk betina > 40 gram sedangkan jantan > 50 gram, induk harus berasal dari populasi dengan pertumbuhan tercepat dan mengetahui asal-usul induk.
c)       Pemeliharaan induk
Kegiatan pemeliharaan induk meliputi :
1.      Induk ditempatkan pada wadah pemeliharaan dengan kepadatan 25 ekor/wadah
2.      Jantan dan betina terpisah
3.      Pakan yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
4.      Penyiponan dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
5.      Pergantian air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)

d)     Pemijahan
Kegiatan pemijahan meliputi :
1.      Sex ratio adalah 3 jantan : 5 betina
2.      Pemijahan alami
3.      Pakan yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
4.      Penyiponan dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
5.      Pergantian air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)

e)      Pengeraman dan penetasan telur
Kegiatan pengeraman dan penetasan telur meliputi :
1.      Induk yang mengerami telur dipindahkan ke akuarium pengeraman
2.      Kepadatan 2-3 ekor induk betina per akuarium dengan tahap perkembangan yang sama
6.      Pakan yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
7.      Penyiponan dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
3.      Pergantian air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)
4.      Masa perkembangan telur berkisar 42  hari
5.      Membersihkan telur atau benih yang tersisa dalam tubuh induk
6.      Induk yang sudah diambil dirontokkan benihnya, kemudian dipindahkan ke wadah pemijahan.
f)       Pemeliharaan benih
Kegiatan pemeliharaan benih meliputi :
1.      Merawat benih yang baru dilepas oleh induk betina sampai benih siap ditebar di tempat pendederan
2.      Dilakukan dalam akuarium penetasan selama 10 – 14 hari
3.      Pakan yang diberikan berupa pellet, toge, cacing tanah atau keong 2 kali sehari
4.      Penyiponan dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan
5.      Pergantian air dilakukan sekali 2 minggu (tergantung kualitas air)


III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Table 1. Ukuran induk lobster air tawar
Sampel kelompok
Batina
Jantan
Panjang (cm)
Berat (gr)
Panjang (cm)
Berat (gr)
1
11.5
37
12
53
2
11
35
13
56
3
13
46
15
85
4




Rata-rata





Table 2. Ukuran induk dan jumlah benih yang dihasilkan
Sampel
Ukuran induk
Jumlah benih (ekor)
Jumlah benih/ gr induk
Jumlah benih/ cm induk
Berat (gr)
Panjang (cm)
1
48
13
226
5
17
2
40
11
165
4
15
Rata-rata
44
12
195
4
16

Table 3. Perkembangan telur
No
Tanggal pengamatan
Umur telur (hari)
Keterangan
1
15 November  2012
1
Berwarna hijau kekuningan
2
22 November  2012
8
Berwarna kuning
3
29 November  2012
15
Berwarna orange
4
6 Deseember 2012
22
Orange kemerah-merahan
5
13 Desember 2012
27
Bintik mata
6
15 Desember 2012
29
Larva sudah menetas dan terbentuk terbentuk sempurna

Table 4.  ukuran dan jumlah benih lobster air tawar dari induk yang
beratnya 48 gr.
Sampling ke
Hari/ tanggal pengamatan
Umur (hari)
Jumlah benih (ekor)
Berat rata-rata (gr/ekor)
SR (%)
1
Senin, 3/12/12
1
226
0,019
100
2
Kamis,13/12/12
10
84
0,049
37,16
3
Minggu,23/12/12
20
44
0,09
19,46
4
Kamis, 1/01/12
30
40
0,14
17,70

Table 5.  ukuran dan jumlah benih lobster air tawar dari induk yang
beratnya  40  gr
Sampling ke
Hari/ tanggal pengamatan
Umur (hari)
Jumlah benih (ekor)
Berat rata-rata (gr/ekor)
SR (%)
1
Kamis, 3/01/13
1
168
0,036
100
2
Kamis, 13/01/13
11
136
0,057
80,95
3
 Kamis, 23/01/13
21
94
0,238
55,95
4
kamis. 01/02/13
31
60
0,3575
35,71



Table 6. Kualitas air media pemeliharaan lobster air tawar
No
Parameter
Kualitas air
Pemijahan
Pengeraman
Benih
1
Suhu (oC)
27  OC
27,5 OC
25
2
DO (ppm)
5,11
5,25
5,31
3
Ph
8,17
8,8
8,07

3.2. Pembahasan
Menurut teori calon induk yang baik dari lobster air tawar harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
-       Umur mulai 8 – 18 bulan
-       Ukuran >12 cm
-       Bobot, untuk betina >40 gram sedangkan jantan >50 gram.
-       Berasal dari populasi dengan pertumbuhan tercepat
-       Mengetahui asal usul induk
Sedangkan induk lobster yang kami kawinkan yaitu rata-rata beratnya untuk betina 40 gram sedangkan induk jantan rata-rata beratnya 60 gram. Induk jantan yang kami pelihara lebih besar daripada induk betina, hal ini sesuai dengan teori yang diberikan oleh Ir. Andi Yusuf Lingka, MP. Semakin berat bobot induk betina maka semakin banyak telur yang dihasilkan begitupun sebaliknya.
Wadah yang kami gunakan untuk pemeliharaan induk yaitu bak fiber dengan volume 1 ton dengan jumlah induk yang dipelihara sebanyak 25 ekor dengan sex ratio adalah 3 jantan dan 5 betina. Selama pemeliharaan induk dilakukan siphon sebelum pemberian pakan karena banyak kotoran yang mengendap di dasar bak seperti sisa pakan dan feses lobster. Setelah selesai disiphon maka diberikan pakan sesuai dengan dosis dan jumlah lobster yang dipelihara. Pakan yang diberikan yaitu 5% dari bobot induk dengan frekuensi pemberian pakan 25% untuk pagi hari dan 75% untuk sore hari, pakan lebih banyak diberikan pada sore hari karena lobster aktif pada malam hari mencari makanan. Adapun pakan yang diberikan selama pemeliharaan yaitu toge, cacing tanah dan keong. Cara pemberian pakan yaitu dengan cara mencincang atau dipotong kecil-kecil sesuai bukaan mulut induk lobster yang dipelihara.
Dalam pemeliharaan induk perlu juga dilakukan pengontrolan kualitas air berupa Oksigen, pH, dan suhu supaya media yang digunakan tetap terjaga serta hama dan penyakit tidak bisa menyerang induk yang dipelihara.
Setelah induk lobster betina bertelur dan mengeram secepatnya dipindahkan ke akuarium supaya tidak diganggu dengan induk yang lain. Induk yang mengeram dilakukan pemeliharaan yang baik supaya larva yang dihasilkan berkualitas. Pada saat pengeraman dilakukan pemberian pakan 2 kali sehari dan penyiponan sebelum pemberian pakan. Kemudian jika kualitas air tidak bagus dilakukan pergantian air sebanyak 70 % supaya tidak terjadi penurunan kualitas air yang bisa menyebabkan induk stress.
Berdasarkan data tabel 2 tentang ukuran induk dan jumlah benih yang dihasilkan bahwa ukuran induk sangat mempengaruhi jumlah benih yang dihasilkan, jika bobot induk besar maka jumlah benih yang dihasilkan juga banyak, sedangkan jika bobot induk kecil maka jumlah benih yang dihasilkan juga sedikit.
Pada saat pemeliharaan perkembangan telur berlangsung selama 29 hari, sedangkan menurut teori perkembangan telur berlangsung selama 42 hari. Hal membuktikan bahwa teori tidak selamanya sama dengan praktek di lapangan. Yang menunjang mungkin lebih cepat menetas telur lobster yang dipelihara karena pengontrolan yang baik seperti frekuensi dan jenis pakan yang diberikan serta kualitas air yang bagus.
Selama kegiatan pemeliharaan larva lobster ada dua akuarium yang dipakai. Untuk akuarium 1 dengan bobot induk 48 gram menghasilkan larva sebanyak 226 ekor pada minggu pertama. Sedangkan akuarium ke 2 dengan bobot induk 40 gram menghasilkan larva sebanyak 168 ekor pada minggu pertama.
Pada akuarium 1 benih yang dihasilkan selama 30 hari pemeliharaan yaitu 40 ekor dengan berat rata-rata per ekor 0,14 gram dan SR 17,70%. Sedangkan akuarium ke 2 benih yang dihasilkan selama 30 hari pemeliharaan yaitu 60 ekor dengan berat rata-rata 0,35 gram dan SR 35,71%.
Jika dibandingkan akuarium 1 dengan akuarium yang ke 2 yang lebih bagus pertumbuhannya adalah akuarium yang ke 2. Karena kenapa? Pada akuarium 1 terjadi padat penebaran larva yang tinggi yang mengakibatkan larva saling memakan karena sifat biologi larva lobster air tawar bersifat karnivor. Selain itu terjadi juga persaingan oksigen dan makanan karena larva yang dipelihara dalam akuarium banyak. Penebaran larva yang tinggi juga berpengaruh pada berat benih per ekornya. Pengaruhnya yaitu benih mengalami pertambahan berat yang sedikit. Sedangkan pada akuarium ke 2 padat penebaran larva yang rendah yang mengakibatkan larva atau benih pertumbuhannya cepat karena tidak terjadi persaingan makanan dan oksigen.

Grafik hubungan antara umur dan berat benih lobster air tawar dengan berat induk 48 gram.


Grafik hubungan antara umur dan berat benih lobster air tawar dengan berat induk 40 gram.

Pengendalian Penyakit
Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah adanya serangan hama di lokasi pembudidaya lobster air tawar sebagai berikut.
1.      Bak atau akuarium dicuci bersih
2.      Melakukan filterasi, yakni air yang masuk ke areal bak harus melalui filter terlebih dahulu sehingga bibit-bibit hama yang masih kecil dapat tertahan oleh filter tersebut.
3.      Memberantas hama, baik secara mekanik, biologis, maupun secara kimiawi. 
              Setiawan (2006) mengungkapkan bahwa beberapa penyakit yang sering menyerang lobster dan menyebabkan kematian adalah sebagi berikut :
1.Saprolegnia dan Achyla
2.Cacing jangkar
3.Argulus foliaceus
            Secara umum hama budidaya lobster air tawar berupa predator,hama lainnya yang biasmenyerang diantaranya tikus,ular,ikan air tawar dan burung. Jenis ikan air tawar yang perlu dihindari adalah lele,gabus,dan gurami yang memakan lobster yang sedang berganti kulit (Kusman,2006).
            Selama pemeliharaan lobster air tawar pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan yaitu :
a)      Sebelum air digunakan terlebih dahulu dilakukan filter fisik dengan menyaring air dengan saringan dan filter bilogis dengan menggunakan alat ultraviolet.
b)      Sebelum induk dipindahkan ke akuarium pengeraman dan penetasan induk terlebih dahulu direndam pada garam selama 2-3 menit supaya telur tidak terserang jamur.
c)      Pada saat pemeliharaan larva sampai benih diberikan larutan methilin blue sebanyak 1 tetes gunanya supaya jamur tidak tumbuh di akuarium pemeliharaan.


IV.  PENUTUP
4.1.  Kesimpulan
            Berdasarkan pembahasan pada halaman sebelumnya dapat saya simpulkan bahwa bobot induk lobster air tawar sangat berpengaruh terhadap jumlah telur dan benih yang dihasilkan. Selain itu dengan kepadatan larva atau benih dalam akuarium pemeliharaan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan lobster air tawar yang dimana dengan padat penebaran yang banyak bisa menghambat pertumbuhan lobster dan terjadi persaingan mendapat makanan, sedangkan padat penebaran yang sedikit bisa mempercepat pertumbuhan lobster karena tidak terjadi persaingan mendapat makanan.
4.2. Saran
            Dengan selesainya kegiatan praktikum ini saya menyarankan bahwa dalam melakukan pembenihan lobster air tawar perlu dilakukan pengontroran setiap hari.

1 komentar:

  1. titanium earring posts - TITIAN ENTRIES
    Tinted in titanium blue two pieces and made columbia titanium pants with titanium band rings three or four mokume gane titanium blades and one end of each pack. Two titanium pans pieces (1) or two (1) of each pack and a metal

    BalasHapus