I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemanfaatan Sumber daya hayati perairan saat ini merujuk kepada sistem pengelolaan akuakultur berkelanjutan yang mencakup beberapa komoditi dengan sistem perairan yang terdiri dari air tawar, air payau dan air laut. Pemanfaatan pada budidaya air payau saat ini terus digalakkan dengan komoditi budidaya ikan bandeng. Teknologi yang diterapkann juga berkembang pesat dari mulai tradisional yang mengandalkan benih dari alam sampai dari hatchery–hatchery dengan pola budidaya yang terencana. Potensi sumber daya hayati perikanan budidaya sesuai data Direktorat Jendral Perikanan dan Pengembangan Perikanan 2010, diketahui bahwa potensi nener atau benih bandeng di Indonesia cukup melimpah, terutama nener hasil pemijahan alam, (Kordi dan Ghufron, 2005).
Selama ini nener ikan bandeng yang digunakan untuk pembesaran ikan bandeng itu sendiri masih mengandalkan dari alam. Sedangkan produksi nener alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting (Fujiana Nursyamsiah, dkk., 2008).
Ketersediaan benih secara berkesinambungan merupakan masalah utama yang dialami oleh para pembudidaya saat ini. Dengan melihat keadaan yang ada pada ketersediaan nener dari alam tidak menjamin kebutuhan para penggelondong maupun kebutuhan pembudidaya di tambak dan Keramba Jaring Apung, walaupun kualitas nener yang bersumber dari alam masih lebih unggul bila dibandingkan produksi nener di hatchery tetapi dari segi kuantitas harus tetap merujuk ke hatchery.
Usaha para pengelola pembenihan bandeng untuk menghasilkan nener yang memiliki kualitas sama dengan alam terus diupayakan dengan cara melakukan pengelolaan kualitas air, pemberian pakan alami dan pakan buatan serta pengendalian hama dan penyakit secara kontinyu dan frekuensi yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mewujudkan anlisa usaha yang menguntungkan dengan produksi nener yang memiliki kualitas baik dan kuantitas yang tinggi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas diperlukan suatu bentuk keterampilan dan etos kerja maksimal yang harus dilakukan untuk menghasilkan target produksi yang sudah ditetapkan. Salah satu tahap kegiatan penting dalam pembenihan ikan bandeng yaitu pengelolaan larva ikan bandeng. Untuk menghasilkan nener (benih) ikan bandeng yang berkualitas dan berkuantitas perlu dilakukan manajemen pemberian pakan alami dan pakan buatan yang tepat dosis, dan manajemen kualitas air secara kontinyu dan frekuensi yang telah ditetapkan.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan dan penguasaan metode pengelolaan larva ikan bandeng (Chanos-chanos Forskall).
Tugas akhir ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam pengembangan usaha pembenihan ikan bandeng untuk menumbuhkan motivasi bagi masyarakat untuk melakukan usaha tersebut.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Taksonomi dan Klasifikasi
Ikan bandeng termasuk dalam famili Chanidae (milk fish) yaitu jenis ikan yang mempunyai bentuk memanjang, padat, pipih (compress) dan oval. Menurut Sudrajat (2008) taksonomi dan klasifikasi ikan bandeng adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Malacopterygii
Famili : Chanidae
Genus : Chanos
Spesies : Chanos chanos Forskall
Nama dagang : Milkfish
Nama lokal : Bolu, muloh, ikan agam
2.2. Morfologi
Ikan bandeng mempunyai badan memanjang seperti torpedo dengan sirip ekor bercabang sebagai tanda bahwa ikan bandeng berenang dengan cepat. Kepala bandeng tidak bersisik, mulut kecil terletak di ujung rahang tanpa gigi, dan lubang hidung terletak di depan mata. Mata diselaputi oleh selaput bening (subcutanaus). Warna badan putih keperak-perakan dengan punggung biru kehitaman (Purnomowati, dkk., 2007).
Ikan bandeng juga mempunyai sirip punggung yang jauh di belakang tutup insang, dengan 14 – 16 jari–jari pada sirip punggung, 16 – 17 jari–jari pada sirip dada, 11 – 12 jari–jari pada sirip perut, 10 – 11 jari–jari pada sirip anus/dubur (sirip dubur /anal finn terletak jauh di belakang sirip punggung), dan sirip ekor berlekuk simetris dengan 19 jari – jari. Sisik pada garis susuk berjumlah 75 – 80 sisik (Ghufron dan Kordi, 2005).
Untuk lebih jelasnya mengenai Morfologi ikan bandeng dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Morfologi Bandeng (Chanos chanos),
Keterangan : a. Mata, b. Tutup insang, c. Strip pectoralis, d. Strip abdominalls, e. Strip analis, f. Strip caudal, g. strip dorsalis,
h. Linea lateralls, dan i. Mulut.
Ikan bandeng jantan dan betina sulit dibedakan baik secara morfologi, ukuran, warna sisik, bentuk kepala dan lain–lainnya. Namun pada bagian anal (lubang pelepasan) pada induk bandeng yang matang kelamin menunjukkan bentuk anatomi yang berbeda (Purnomowati, dkk., 2007).
Untuk ikan bandeng jantan mempunyai 2 tonjolan kecil (papila) yang terbuka di bagian luarnya yaitu selaput dubur luar dan lubang pelepasan yang membuka pada bagian ujungnya. Di dalam alat genital jantan (vasa deferentia), mulai dari testes menyatu sedalam 2 – 10 mm dari lubang pelepasan. Lubang kencing (urinari pore) melebar ke arah saluran besar dari sisi atas. Selain itu 2 tonjolan urogenital yang membuka ke arah ventral anus (Rusmiyati, 2012).
Sedangkan untuk betina mempunyai 3 tonjolan kecil (papila) yang terbuka di bagian anal. Satu lubang adalah lubang anus yang sejajar dengan lubang genital pore sedangkan lubang satunya lagi yaitu lubang posterior dari genital pore berada pada ujung urogenital papila. Dari 2 oviduct menyatu kearah saluran yang lebar yang merupakan saluran telur dan saluran tersebut berakhir di genital pore (Rusmiyati, 2012).
2.3. Siklus Hidup
Ikan bandeng merupakan jenis ikan laut yang daerah penyebarannya meliputi daerah tropika dan sub tropika (Pantai Timur Afrika, Laut Merah sampai Taiwan, Malaysia, Indonesia dan Australia). Di Indonesia penyebaran ikan bandeng meliputi sepanjang pantai utara Pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Aceh, Sumatra Selatan, Lampung, Pantai Timur Kalimantan, sepanjang pantai Sulawesi dan Irian Jaya. (Purnomowati, dkk., 2007).
Ikan bandeng termasuk jenis ikan euryhaline dimana dapat hidup pada kisaran kadar garam yang cukup tinggi (0 – 140 promil). Oleh karena itu ikan bandeng dapat hidup di daerah tawar (kolam/sawah), air payau (tambak), dan air asin (laut) (Purnomowati, dkk., 2007).
2.4. Kebiasaan Makan
Ikan bandeng mempunyai kebiasaan makan pada siang hari. Di habitat aslinya ikan bandeng mempunyai kebiasaan mengambil makanan dari lapisan atas dasar laut, berupa tumbuhan mikroskopis seperti: plankton, udang renik, jasad renik, dan tanaman multiseluler lainnya. Makanan ikan bandeng disesuaikan dengan ukuran mulutnya (Purnomowati, dkk., 2007).
Pada waktu larva, ikan bandeng tergolong karnivora, kemudian pada ukuran fry menjadi omnivora. Pada ukuran juvenil termasuk ke dalam golongan herbivora, dimana pada fase ini juga ikan bandeng sudah bisa makan pakan buatan berupa pellet. Setelah dewasa, ikan bandeng kembali berubah menjadi omnivora lagi karena mengkonsumsi, algae, zooplankton, bentos lunak, dan pakan buatan berbentuk pellet (Aslamyah, 2008).
2.5. Pemeliharaan Larva
Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran, suhu 27-310C salinitas 30 ppt, pH 8 dan oksigen 5-7 ppm diisikan ke dalam bak tidak kurang dari 100 cm yang sudah dipersiapkan dan dilengkapi sistem aerasi dan batu aerasi dipasang dengan jarak antara 100 cm (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010).
Larva umur 0-2 hari kebutuhan makanannya masih dipenuhi oleh kuning telur sebagai cadangan makanannya. Hari kedua setelah ditetaskan diberi pakan alami yaitu chlorella dan rotifera. Masa pemeliharaan berlangsung 21-25 hari saat larva sudah berubah menjadi nener. Pada hari ke nol telur-telur yang tidak menetes, cangkang telur larva yang baru menetas perlu disiphon sampai hari ke 8-10 larva dipelihara pada kondisi air stagnan dan setelah hari ke 10 dilakukan pergantian air 10% meningkat secara bertahap sampai 100% menjelang panen (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010).
Masa kritis dalam pemeliharaan larva biasanya terjadi mulai hari ke 3-4 sampai ke 7-8. Untuk mengurangi jumlah kematian larva, jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air pemeliharan perlu terus dipertahankan pada kisaran optimal (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010).
Nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12-16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25 hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010).
2.6. Pengelolaan Kualitas Air
Menurut Effendi (1976). Bahwa salah satu faktor yang sangat menentukan dalam kehidupan dan pertumbuhan pada ikan adalah kualitas air, makanan, dan keadaan biologis ikan bersangkutan. Beberapa faktor kualitas air yang penting dalam pembenihan ikan bandeng yaitu faktor kimia, faktor fisika, dan faktor biologi. Parameter kualitas air yang menentukan adalah : oksigen terlarut, karbondioksida, derajat keasaman, suhu, kandungan nitrit, kandungan amoniak, dan kadar garam air (salinitas). Mutu air optimal bagi pemeliharaan bandeng dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Mutu Air Optimal bagi Pemeliharaan Larva Bandeng.
| Parameter | Kisaran Bawah | Kisaran Atas | Optimum |
| DO (mg/l) | 2,0 | - | 3,0 – 8,5 ppm |
| Amoniak (mg/l) | 0,0 | 0,1 | 0 |
| Ph | 7,5 | 9,0 | 7,2 – 8,3 |
| Temperatur (0C ) | 26,0 | 32,0 | 27 – 30 0C |
| Salinitas (ppt) | 20,0 | 35,0 | 29 – 32 ppt |
(Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010).
III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang telah dilaksanakan selama 3 bulan yaitu mulai bulan Maret - Juni 2013 di PT. Esaputlii Prakarsa Utama (Benur Kita), Di Kabupaten Barru.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengambilan data yang digunakan dalam menyusun tugas akhir ini adalah berupa data primer dan data sekunder yakni sebagai berikut :
a. Pengumpulan Data Primer
Data primer diperoleh dengan cara melaksanakan dan mengikuti secara langsung kegiatan Teknik Pembenihan Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskall), khususnya mengenai teknik pengelolaan larva serta ikut berperan aktif di lapangan, juga melakukan wawancara dengan pembimbing dan teknisi lapangan.
b. Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui laporan-laporan terdahulu, studi literatur dan pustaka, buku, makalah, browsing internet dan sejenisnya yang relevan dengan kegiatan Teknik Pembenihan Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskall).
3.3. Materi dan Metode Kerja
3.3.1. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam kegiatan pengelolaan larva ikan bandeng dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis Alat yang Digunakan dalam Pengelolaan Larva Ikan Bandeng
| No. | Alat | Fungsi |
| 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. | Bak larva Bak kultur pakan alami Bak sortir Ember volume 10 liter Ember volume 25 liter Sikat kawat/penggosok panci Gayung Baskom panen Selang spiral ukuran 2 inci Selang sipon Kantong Saringan rotifer Kantong saringan kultur alga Pompa dan pipa Kelambu panen Alat sortir Staerofoam Pompa Blower Mistar | Wadah pemeliharaan larva Wadah kultur Chlorella dan Rotifera Wadah pemeliharaan nener Menampung rotifer yang siap diberikan ke larva Menampung rotifer hasil panen Menghilangkan kotoran Untuk menebar pakan alami rotifer Menampung nener yang dipanen Untuk memanen rotifer Untuk menyipon kotoran di bak larva Untuk menyaring rotifer Untuk menyaring kotoran dan rotifer Mentransfer air alga ke bak kultur rotifer Menampung larva atau nener saat panen Untuk memisahkan nener ukuran besar dan ukuran kecil Untuk menampung nener hasil panen Mendistribusikan air Menyuplai oksigen Untuk mengukur panjang larva |
Adapun bahan yang digunakan dalam kegiatan pengelolaan larva ikan bandeng dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jenis Bahan yang Digunakan dalam Pengelolaan Larva Ikan Bandeng
| No. | Bahan | Fungsi |
| 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. | Air laut Air tawar Pupuk Urea, ZA, dan TSP Pakan buatan PS-P Pakan alami chlorella Pakan alami rotifera Bibit rotifer dan alga chloella Bangkai ayam Larva ikan bandeng Kaporit Telur ikan bandeng | Air media pemeliharaan larva dan kultur pakan alami Untuk mencuci alat yang sudah dipakai Pupuk untuk kultur chlorella Pakan buatan untuk larva Pakan alami untuk rotifer Pakan alami untuk larva Bibit untuk kegiatan kultur massal Untuk menumbuhkan bakteri Benih ikan bandeng yang dipelihara Sebagai desinfektan Menghasilkan larva ikan bandeng |
3.3.2. Prosedur Kerja
3.3.2.1. Persiapan Wadah
1.1 Wadah Pemeliharaan Larva
1. Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan pencucian bak pemeliharaan larva yaitu penggosok panci atau sikat, selang, selang aerasi dan batu aerasi
2. Wadah volume 24 ton dan 7 ton terlebih dahulu disiram dengan air laut kemudian dinding dan dasar bak disikat dan digosok menggunakan penggosok panci kemudian disemprot dengan air laut menggunakan selang supaya lumut dan kotorannya terlepas.
3. Selain itu selang dan batu aerasi juga dibersihkan dengan cara digosok sampai bersih.
4. Bak dikeringkan (dijemur) selama satu hari.
5. Pengisian air bak pemeliharaan larva sebanyak 70 % dari volume bak.
6. Setiap bak dilengkapi dengan selang aerasi sebanyak 16 titik dengan jarak antar aerasi 50 cm dan 10 cm diatas dasar bak. Kemudia aerasi diatur dengan kekuatan sedang.
1.2 Wadah Kultur Pakan Alami
1. Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan pencucian bak kultur pakan alami yaitu penggosok panci atau sikat, selang, selang aerasi dan batu aerasi
2. Wadah kultur pakan alami Chlorella berukuran 12 dan 20 ton dan wadah kultur pakan alami Rotifera berukuran 12 dan 24 ton terlebih dahulu disiram dengan air kemudian disikat dan digosok menggunakan penggosok panci.
3. Dinding dan dasar bak disemprot dengan air laut menggunakan selang supaya lumut dan kotorannya lepas. Selain itu selang dan batu aerasi juga dibersihkan dengan cara digosok sampai bersih.
4. Bak dikeringkan (dijemur) selama 2 jam.
5. Kultur massal dilakukan dengan mengambil bibit Chlorella dari bak lain
6. Setiap bak dilengkapi dengan aerasi sebanyak 8 titik dengan jarak antar aerasi 1 m dan 10 cm di atas dasar bak supaya suplai oksigen merata.
3.3.2.2. Persiapan Air
a. Air Laut
1. Air laut dipompa masuk ke dalam bak reservoar I melewati pressure filter dengan bantuan pompa 10 PK, dengan diameter pipa 6 inchi. Air laut ditampung pada bak reservoar dengan kapasitas 200 ton, kemudian diberikan kaporit 10-15 ppm dan ditebar secara merata di permukaan air dan diaerasi (blower dinyalakan) 1-2 jam supaya tercampur merata.
2. Setelah itu diberi Natrium Thiosulfat 3-5 ppm untuk menetralkan bau kaporit (blower dinyalakan 1-2 jam supaya tercampur merata).
3. Air ditransfer ke Reservoar II melalui filter grafitasi yang diberi arang aktif dan pasir kuarsa. Filter bag dipasang di ujung pipa air masuk ke Reservoar II.
4. Air yang sudah netral dan sudah melewati filter didistribusikan ke setiap bak pemeliharaan larva dan bak kultur pakan alami.
b. Air Tawar
1. Air tawar diambil menggunakan sumur bor dengan kedalaman ± 50 meter.
2. Sumur bor terletak di luar lokasi hatcheri yang berjarak ± 500 meter dari lokasi hatchery.
3. Air dipompa menggunakan pompa 2,4 PK menuju tandon air tawar.
4. Tandon berada pada tower dengan ketinggian 5 meter.
5. Air dari tower dialirkan ke unit pembenihan ikan bandeng melalui pipa 2 inchi.
3.3.2.3. Penebaran Telur Ikan Bandeng
1. Alat dan bahan berupa ember dan gelas takaran disiapkan
2. Telur ditakar menggunakan gelas takaran volume 200 ml.
3. Telur yang sudah ditakar dimasukkan ke dalam ember yang berisi air laut 2-3 liter.
4. Ember yang berisi telur di bawah ke bak pemeliharaan larva untuk ditebar
5. Sebelum telur ditebar aerasi diatur dengan kekuatan sedang.
6. Penebaran telur dilakukan pada sore hari sekitar pukul 17.00
7. Telur ditebar di dalam bak pemeliharaan larva dengan pelan-pelan
3.3.2.4. Pemeliharaan Larva Ikan Bandeng
1. Larva yang sudah menetas atau larva berumur dua hari di bak pemeliharaan larva dilakukan penyiponan untuk membuang cangkang telur yang sudah menetas dan telur yang tidak menetas.
2. Pemberian pakan alami Chlorella sp. dan Rotifera dilakukan pada larva umur tiga hari sampai panen dengan frekuensi dua kali sehari.
3. Pergantian air dilakukan pada saat larva berumur 10 hari sebanyak 10 % dan meningkat sampai panen.
4. Pemberian pakan buatan PS-P pada saat larva berumur 11 hari sampai panen dengan frekuensi pemberian pakan buatan empat kali sehari.
5. Pemanenan dilakukan pada saat larva berumur 17-20 hari.
6. Grading dilakukan terhadap larva dan larva hasil grading dipelihara di bak grading selama 5 hari
3.3.2.5. Manajemen Pemberian Pakan Pada Larva
1. Rotifera yang sudah dipanen dan berada di ember penampungan rotifer ditambahkan alga sebanyak 30 liter dengan perbandingan alga dengan rotifer dalam satuan liter yaitu 30 liter : 10 liter.
2. Rotifer yang sudah dicampurkan dengan alga disaring kemudian dituang ke dalam ember dengan volume 10 liter
3. Rotifer diberikan pada larva dengan cara menebar ke dalam wadah pemeliharaan larva.
4. Untuk pemberian pakan buatan Ps-P yaitu pakan diserok kemudian dimasukkan ke tempat pakan buatan berupa tapisan.
5. Pakan buatan ditebar secara merata ke dalam bak pemeliharaan larva dengan dosis 8 gram – 10 gram dalam satu kali pemberian.
3.3.2.6. Manajemen Kualitas Air Media Pemeliharaan Larva Bandeng
1. Selang dipasang dipangkal alat siphon kemudian diikat dengan karet supaya tidak terlepas
2. Selang diisi air sampai penuh kemudian dicelupkan ke dalam bak pemeliharaan larva
3. Selang aerasi diangkat supaya tidak menghalangi pada saat penyiponan
4. Dasar bak disipon dengan hati-hati supaya larva tidak ikut keluar bersama kotoran atau lumutnya.
5. Untuk pergantian air dilakukan dengan cara membuka saluran outlet bak pemeliharaan larva dengan pelan-pelan.
6. Air dikeluarkan sebanyak 10% - 20 % pada saat larva berumur 10 hari sampai 15 hari, dan 50 % - 70 % pada larva umur 16 hari sampai 20 hari.
7. Setelah itu bak pemeliharaan larva diisikan air laut kembali sebanyak air yang keluar.
3.3.2.7. Pengamatan Pertumbuhan dan Jumlah Larva Ikan Bandeng
1. Larva ikan bandeng diambil sebanyak empat stasiun menggunakan gelas ukur volume 1 liter
2. Sampel larva ikan bandeng diambil secara acak sebanyak 5 ekor kemudian diukur panjangnya menggunakan mistar dan ditimbang untuk mengetahui beratnya menggunakan timbangan digital.
3. Untuk penghitungan jumlah larva, digunakan rumus sebagai berikut :
| Jumlah larva | = | Rata-Rata Jumlah larva Sampel (Ekor) | X Volume Bak (l) |
| Volume Sampel |
| Jumlah larva | = | 18 Ekor | X 4000 liter | = 72.000 ekor |
| 1 liter |
3.3.2.8. Kegiatan Kultur Pakan Alami
a. Kultur Chlorella
1. Bak alga dicuci dan dibersihkan sampai bersih dan dikeringkan selama 1 hari
2. Air alga dari bak lain ditransfer dengan menggunakan selang spiral 2 inci
3. Ujung selang spiral dipasangkan kantong saringan kultur alga ukuran 70 mikron
4. Bak diisi alga sebanyak 30 % dari volume bak.
5. Kemudian alga dipupuk menggunakan pupuk Urea 30 ppm, Za 20 ppm, dan TSP 5 ppm.
6. Pupuk TSP sebanyak 250 gram dilarutkan dengan air sebanyak 5 liter
7. Urea dan Za dimasukkan ke dalam ember kemudian ditambahkan pupuk TSP sebanyak 2 liter (5 ppm).
8. Ketiga pupuk diaduk sampai sampai larut
10. Pupuk ditebar ke dalam bak kultur alga secara merata
11.Terakhir diberikan kaporit sebanyak 5 gr sebagai desinfektan.
b. Kultur Rotifera
1. Bibit chlorella dipompa menggunakan selang spiral ukuran 2 inci masuk ke dalam bak rotifer.
2. Bak kultur rotifer diisi alga sebanyak 20 % dari volume bak kemudian ditambahkan air laut sebanyak 10 %.
3. Setelah dilakukan pengisian alga dan air laut, selanjutnya bibit rotifer yang sudah dipanen dimasukkan ke dalam ember dengan volume 10 liter. Bibit sebanyak 10 liter dimasukkan ke dalam bak kultur.
4. Kepala dan kaki ayam dimasukkan ke dalam kantong yang terbuat dari waring, setelah itu diikat dan digantung di dalam bak kultur rotifer dan diusahakan terendam dengan air.
5. 2 hari setelah kultur dilakukan penambahan alga 20 % dan air laut 10 %.
6. 4 hari setelah kultur dilakukan penambahan alga 20 % dan air laut 20 %.
7. Pemanenan rotifer dilakukan 5-7 hari setelah kultur atau jika sudah terlihat padat dan berwarna merah kecoklatan bisa dipanen.
3.3.2.9. Panen Nener (Benih)
1. Air bak pemeliharaan larva diturunkan airnya sebanyak 80% atau sebanyak 5 ton.
2. Kelambu panen size 50 dipasang di ujung saluran pipa pengeluran bak pemeliharaan larva.
3. Penutup pipa pengeluaran dibuka pelan-pelan supaya nenernya keluar sedikit demi sedikit.
4. Nener yang berada di kelambu panen diseser menggunakan gayung dan dimasukkan ke dalam ember
5. Nener yang sudah dipanen dipindahkan ke bak sortiran untuk disortir dan dipelihara selama 3-5 hari baru panen untuk dipacking.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Jumlah Penebaran Telur
Penebaran telur yang dilakukan di PT. Esaputlii Prakarsa Utama dilakukan pada sore hari sekitar pukul 17.00 dan akan menetas 24 sampai 28 jam setelah pemijahan. Penebaran telur dilakukan pada sore hari dengan alasan bahwa telur harus diinkubasi terlebih dahulu selama 8 jam sebelum ditebar di bak pemeliharaan larva, hal ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo, (2002) telur yang dibuahi kemudian dipanen dan diinkubasi dan diaerasi hingga telur pada tingkat embrio, selain itu pada pukul 17.00 suhu di dalam air rendah yaitu 280C. Jumlah penebaran telur berdasarkan volume bak dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Jumlah Penebaran Telur Berdasarkan Volume Bak.
| Volume Bak | Volume Air | Jumlah Penebaran | Kepadatan |
| 7 Ton | 5 Ton | 100.000 butir | 20 Ekor/liter |
| 24 Ton | 16 Ton | 200.000 butir | 12 Ekor/liter |
Kepadatan telur yang ditebar disesuaikan dengan volume bak pemeliharaan larva. Kepadatan telur pada bak penetasan atau pemeliharaan larva yaitu sekitar 12 sampai 20 butir/liter air. Kisaran ini sesuai dengan yang dikatakan (Cholik, dkk., 1990), bahwa kepadatan telur yang ideal dalam bak penetasan atau pemeliharaan larva adalah 20 – 40 butir/liter air. Penebaran telur ikan bandeng dapat dilihat pada Gambar 2. berikut.
Gambar 2. Penebaran Telur Ikan Banden
4.3. Penyediaan Pakan pada Larva
a. Kultur Chlorella sp.
Teknik kultur fitoplankton secara umum dapat dilakukan dalam tiga tahap, yaitu skala laboratorium, skala semi massal, dan skala massal (Willyarta Yudisti, 2010). Namun demikian keberhasilan dari tahapan kultur semi massal dan skala massal tentunya tidak terlepas dari bibit yang dipergunakan (inokulan). Teknik kultur Chlorella sp. yang dilakukan di PT. Esaputlii Prakarsa Utama yaitu kultur massal.
Kultur ini dipersiapkan sebagai makanan alami bagi rotifer. Kultur ini dilakukan dalam bak yang berbeda ukuran, sehingga ketersediaan Chlorella dapat berkesinambungan dan masa pemeliharaan untuk kultur massal Chlorella adalah 4 sampai 5 hari. (Ayusta, 1991) mengemukakan bahwa kondisi yang normal pemeliharaan mencapai puncak kepadatan 3 sampai 4 hari dan biasanya ditandai dengan warna hijau gelap.
Untuk kelanjutannya Chlorella dibudidayakan di luar ruangan umumnya disebut kultur outdoor dengan menggunakan cahaya matahari sebagai proses pertumbuhan selnya dengan pemberian aerasi secara kuat untuk menghomogenkan larutan media dan selnya (Willyarta Yudisti, 2010).
Dalam melakukan kultur massal Chlorella maka ketersediaan pupuk sangat dibutuhkan, karena pupuk merupakan sumber nutrien yang dibutuhkan Chlorella. Selain itu, pencahayaan yang cukup juga mutlak diperlukan sebagai sumber energi untuk berfotosintesis. Pupuk yang diberikan harus mengandung Nitrogen (NH4), Amonium (NO3), dan Fospat. Selanjutnya dan di dalam bak kultur harus diberikan aerasi yang kuat terus menerus untuk menyuplai kebutuhan oksigen terlarut di dalam air. Karena jika oksigen di dalam air berkurang maka nitrogen akan berubah menjadi nitrit dan amonium akan menjadi amoniak di dalam air. Nitrit dan amoniak ini akan menjadi racun bagi bibit Chlorella, sehingga kegiatan kultur tidak bisa berhasil.
Dalam kultur fitoplankton secara massal sistem aerasi sangat penting artinya selain sebagai sumber O2/CO2 juga berfungsi sebagai pengaduk (sirkulasi) air media pemeliharaan, pemerataan cahaya, dan pemerataan pupuk. Pengudaraan ke dalam bak kultur sebaiknya dengan kekuatan aerasi sedang dan merata dengan maksud untuk lebih meratakan dengan maksud untuk lebih memeratakan penyebaran pupuk ke seluruh bagian bak kultur (Willyarta Yudisti, 2010). Adapun jenis pupuk yang digunakan dalam melakukan kultur massal Chlorella sp. diantaranya pupuk Urea 40 ppm, ZA 30 ppm dan TSP 5-10 ppm.
Kandungan zat gizi pakan sangat menentukan pertumbuhan larva ikan yang dipelihara. Plankton sebagai jasad pakan merupakan sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral bagi pemangsanya. Chlorella sp. sangat baik untuk larva ikan bandeng karena pakan ini sesuai bukaan mulut larva ikan bandeng serta kandungan nutrisinya yang tinggi. Chlorella sp. juga menghasilkan suatu antibiotik yang disebut Chlorellin suatu zat yang dapat melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Kandungan gizi Chlorella sp. dapat dilihat pada Tabel 5. berikut.
Tabel 5. Kandungan Gizi Chlorella sp.
| Kandungan | Rata-rata (g/100 g) |
| Protein | 55,6 |
| Lemak | 13,3 |
| Karbohidrat | 15,0 |
| Abu | 8,4 |
| Sisa serat | 4,7 |
| Kadar air | 3,0 |
| Klorofil | 4,2 |
Sumber : (Ayusta, 1994)
b. Kultur Rotifera (Brachionus plicatillis)
Wadah kultur rotifer yang sudah disiapkan dilakukan pengisian Chlorella sp. sebanyak 20% dari volume bak dan ditambahkan air laut sebanyak 10%. Selanjutnya bibit rotifer yang sudah dipanen dimasukkan ke dalam ember dengan volume 10 liter dengan kepadatan 40 sampai 50 individul/ml dan ditebar di dalam bak kultur Rotifer yang sudah diisi Chlorella sp. Untuk menambah kepadatan rotifer di bak kultur diberikan bangkai ayam berupa kepala dan kaki ayam ke dalam kantong yang terbuat dari waring dan digantung di dalam bak kultur rotifer dan diusahakan terendam dengan air. Bangkai ayam ini akan teruarai menjadi bakteri dan bakteri ini merupakan makanan bagi Rotifer. Menurut Ratna Yulistiani (2010), mengatakan bahwa bakteri yang tumbuh dominan pada daging bangkai ayam yaitu Escherica coli merupakan bakteri yang bersifat flora normal dalam saluran pencernaan, tetapi juga merupakan bakteri patogen untuk strain-strain tertentu. Bakteri ini berfungsi sebagai makanan pengganti dari Chlorella sp. seketika bibit Chlorella sp, tersebut telah habis dimakan di dalam bak kultur Rotifer.
Pemanenan rotifer dilakukan satu minggu setelah dikultur. Kepadatan rotifer dapat dilihat dengan mengambil air bak kultur menggunakan gelas ukur, kemudian dilihat di depan mata. Pemanenan Rotifer yang dilakukan yaitu dengan cara panen sebagian. Pemanenan rotifer dilakukan setiap hari dengan frekuensi panen dua kali sehari. Setelah dilakukan pemanenan rotifer, bak kultur kembali dilakukan pengisian Chlorella sp. sebanyak air yang dikeluarkan. Pengisian Chlorella sp. ini dilakukan dengan tujuan supaya makanan untuk Rotifer selalu tersedia. Panen Rotifer dapat dilihat pada Gambar 4. berikut.
Gambar 4. Panen Rotifer
Jadi pada dasarnya pakan alami Chlorella sp. dan Rotifer memegang peranan yang sangat penting dalam pemeliharaan larva ikan bandeng. Untuk mendapatkan kelangsungan hidup yang tinggi, beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk makanan larva seperti ukuran makan, nilai nutrisi, dan kemudahan untuk dicerna oleh larva (Purnomo dalam Ayusta, 1991). Nilai nutrisi pakan pada larva umumnya dilihat dari komposisi zat gizinya seperti kandungan protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Menurut Ayusta, (1991) bahwa kandungan zat gizi Rotifer (Brachionus plicatillis sp.) yaitu protein (55,21%), karbohidrat (11,06%), lemak (12,55%), abu (8,4%), dan kadar air 38,89%.
4.4. Pemeliharaan Larva
a. Pemberian Pakan
Ketersediaan pakan sangat menentukan dalam keberhasilan pemeliharaan larva ikan bandeng. Pemberian makanan pada pada larva ikan bandeng harus sesuai dengan bukaan mulut larva. Jadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada larva ikan bandeng antara lain jenis makanan, jumlah pakan, waktu dan frekuensi serta cara pemberian pakan. apabila bukaan mulut larva kurang sempurna dan tidak ada kesesuian dalam menangkap makanan alami maka larva akan banyak mengalami stress dan pada akhirnya mati.
Lebar bukaan mulut larva ikan bandeng 225 mikon dan panjang rahang 200 mikron. Makanan yang cocok untuk bagi larva ikan bandeng yang sesuai dengan bukaan mulutnya yaitu Rotifer (Brachionus plicatillis), yang ukurannya kurang dari 200 mikron. Selain itu jenis makanan yang lain yang diberikan adalah Chlorella sp. selain berfungsi sebagai bahan makanan alami bagi larva bandeng juga berfungsi sebagai makanan Rotifer.
Larva bandeng mulai makan pada saat larva berumur tiga hari, dimana pada saat itu cadangan makanan (yolk egg) sudah habis diserap. Pada masa itu merupakan masa kritis bagi larva karena organ pencernaannya mulai dalam tahap penyempurnaan. Menurut (Anindistuti dkk 1995), bekal kuning telur pada larva bandeng hanya cukup untuk persediaan selama tidak lebih dari tiga hari, setelah itu larva harus aktif mengambil makanan dari sekitar lingkungannya.
Pada saat larva berumur 3 hari sudah mulai diberikan pakan alami berupa Chlorella sp. dan Rotifera. Pemberian Chlorella sp. berfungsi sebagai peneduh pada media pemeliharaan larva terhadap cahaya matahari yang masuk. Dalam hal ini Chorella sp. akan mengurangi intensitas cahaya matahari dan juga berfungsi sebagai makanan bagi Rotifera. Manajemen pemberian pakan pada larva ikan bandeng dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 . Manajemen Pemberian Pakan pada Larva Bandeng
| Umur Larva | Chlorella sp. | Rotifera (Brachionus plicatillis sp.) | Pakan Buatan PS-P |
| D0 s.d. D2 | - | - | - |
| D3 s.d. D7 | 10 liter | 10 s.d. 20 ind/ml | - |
| D8 s.d. D10 | 15 liter | 20 s.d. 30 ind/ml | - |
| D11 s.d. D15 | 15 liter | 20 s.d. 30 ind/ml | 8 s.d. 10 gram |
| D16 s.d. D20 | 20 liter | 30 s.d. 50 ind/ml | 10 s.d. 15 gram |
| D21 s.d. D25 | 10 liter | 30 s.d. 50 ind/ml | 10 s.d. 15 gram |
(Sumber : PT. Esaputlii Prakarsa Utama Kabupaten Barru, 2013)
Pemberian pakan alami pada larva bandeng dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari setelah pemanenan Rotifer. Berdasarkan data Tabel 6 diatas, bahwa kepadatan Rotifera pada awal pemberian (Umur D3 s.d. D7) yaitu 10 s.d. 20 ind/ml, pada (Umur D8 s.d. D15) kepadatan rotifer yang diberikan ke larva sebanyak 20 s.d. 30 ind/ml dan meningkat jumlahnya sampai 30 s.d. 50 ind/ml sejalan dengan bertambahnya umur larva. semakin besar ukuran larva ikan sebaiknya kepadatan pakan yang diberikan lebih banyak, jangan sampai larva ikan kekurangan makanan karena dapat mengakibatkan kematian pada larva ikan bandeng (Anonim, 2010).
Berdasarkan kepadatan larva 20 sampai dengan 25 ekor/liter jumlah Chorella : Rotifera : larva = 3.000.000 : 300 : 1, ini diberikan pada larva umur 3 sampai 7 hari . Kemudian larva yang berumur 8 sampai 15 hari menjelang panen pemberian makanan Chorella : Rotifera : larva = 6.000.000 : 600 : 1.
Cara pemberian pakannya yaitu Chorella sp. dan Rotifera dimasukkan ke dalam ember volume 10 liter kemudian pakan digayung dan diberikan pada larva dengan cara menebar secara merata ke dalam bak pemeliharaan larva supaya semua larva mendapat makanan.
Selain pemberian pakan alami, juga dilakukan pemberian pakan buatan (Artificial feed) pada saat larva berumur lebih dari 10 hari dengan frekuensi pemberian pakan buatan yaitu sebanyak 4 kali sehari dengan dosis pakan yang diberikan yaitu 5 sampai 8% dari berat biomassa larva, jumlah pakan buatan yang diberikan disesuaikan dengan umur dan jumlah larva.
b. Pertumbuhan Larva Ikan Bandeng
Menurut Effendi (1978), pertumbuhan merupakan proses pertumbuhan ukuran panjang dan berat dalam suatu jangka waktu tertentu. Pertumbuhan secara individu merupakan pertumbuhan jaingan akibat dari pembelahan sel-selnya secara mitosis menyebabkan perubahan ukuran baik panjang maupun berat.
Pertumbuhan panjang rata-rata larva ikan bandeng dapat dilihat pada Tabel 7. berikut ini.
Tabel 7. Pertumbuhan Panjang Rata-Rata Larva Ikan Bandeng
| Umur Larva (hari) | Panjang Larva (mm) |
| 1 3 6 9 12 15 18 21 25 | 5,0 5,1 5,5 – 6,0 6,0 – 6,5 7,0 – 7,5 9,0 – 9,5 11,5 – 12,5 14,0 – 14,5 16,0 – 16,2 |
Berdasarkan Tabel 7. diatas bahwa pengkuran panjang larva dari seluruh kegiatan dilakukan setiap tiga hari sekali. Pertumbuhan rata-rata panjang larva ikan bandeng dengan rata-rata 5,0 sampai dengan 16,2 mm dari umur 1 sampai 25 hari. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pertumbuhan panjang larva ikan bandeng yang dihasilkan terbilang cepat, dimana larva yang baru menetas memiliki panjang total 4,29 mm, tinggi larva 0,89 mm, (Rinrin Sriyani, 1993). Sedangkan menurut Anonim (2010), mengatakan nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12 dan 16 mm dapat dipelihara sampai umur 25 hari.
c. Kualitas Air Pemeliharaan Larva Bandeng
Pengelolaan kualitas air bertujuan untuk menjaga kualitas air media pemeliharaan agar tetap optimal untuk pemeliharaan larva ikan bandeng. Adapun pengelolaan kualitas air yang dilakukan yaitu dengan cara penyiponan, pergantian air, dan sirkulasi air.
Penyiponan dilakukan selama pemeliharaan larva bandeng yaitu sebanyak 3 kali. penyiponan pertama dilakukan pada saat larva berumur 2 hari setelah menetas. penyiponan ini perlu dilakukan pada bagian dasar bak agar cangkang-cangkang telur akibat proses penetasan dan telur-telur yang tidak menetas dapat dikeluarkan. Karena bila tidak disipon akan membusuk dan menjadi amoniak dan akan menjadi racun bagi larva. Penyiponan kedua dilakukan pada saat larva berumr 10 hari. Penyiponan ini dilakuan supaya kotoran yang berupa sisa pakan, feses larva, dan larva yang mati berada di dasar bak dikeluarkan. Penyiponan ketiga dilakukan pada saat larva berumur 18 hari menjelang panen. Penyiponan ini dilakukan untuk membersihkan kotoran dan lumut yang menempel di dasar bak, penyiponan ini sangat perlu dilakukan karena jika tidak disipon larva akan tersangkut dilumut pada saat panen nener dilakukan.
Selain penyiponan, pergantian air dan sirkulasi air perlu dilakukan pada saat pemeliharaan larva supaya kualitas air media pemeliharaan larva tetap bagus. Pergantian air mulai dilakukan pada saat larva berumur 10 hari dengan cara mengeluarkan air sebanyak 10 % dari volume awal dan ini dilakukan setiap hari dengan volume yang semakin meningkat sampai dengan panen. Pergantian air ini bertujuan agar air sebagai media pemeliharaan tetap dalam kondisi yang optimal bagi larva bandeng.
Adapun data pengukuran kualitas air yang dilakukan selama pemeliharaan larva ikan bandeng, dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.
Tabel 8. Kualitas Air untuk Larva Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskall)
| Parameter | Hasil | Kisaran Nilai |
| Suhu (oC) | 28 0C - 29 0C | 27 – 30 0C |
| Oksigen Terlarut (ppm) | 5-6 ppm | 3,0 – 8,5 |
| pH | 7,1 - 7,5 | 7,2 – 8,3 |
| Salinitas (ppt) | 31-32 ppt | 29 – 32 ppt |
| | | |
Berdasarkan Tabel 8. diatas dapat diketahui bahwa suhu selama pemeliharaan berkisar antara 28 sampai 29 °C. Suhu ini masih dalam kisaran yang sesuai untuk pemeliharaan dan pertumbuhan ikan bandeng. Menurut Zakaria (2010) mengatakan bahwa suhu yang baik untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan bandeng berkiasar antara 24 sampai 31 °C. Hal ini juga didukung oleh pendapat Kordi (2005) bahwa suhu optimal untuk pemeliharaan ikan bandeng berkisar antara 23 sampai 32°C.
Kandungan oksigen terlarut yang diperoleh selama pemeliharaa berkisar antara 5 sampai 6 ppm. Kisaran ini masih sesuai untuk pemeliharaan ikan bandeng. Menrut Zakaria (2010), kandungan oksigen yang sesuai untuk pemeliharaan ikan bandeng tidak kurang dari 3 ppm.
Tingkat keasaman (pH) yang diperoleh yaitu berkisar antara 7,1 sampai 7,5. Kisaran ini tergolong sangat layak untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan bandeng. Hal ini sesuai dengan pendapat Kordi (2009) yang mengatakan bahwa ikan bandeng masih dapat tumbuh optimal pada pH 6.5 sampai 9. Sedangkan salinitas yang diperoleh yaitu berkisar antara 31 sampai 32 ppt. Kisaran ini masih sesuai untuk pemeliharaan larva ikan bandeng. Menurut Anonim, (2010) salinitas yang sesuai untuk pemeliharaan larva ikan bandeng berkisar 29 sampai 32 ppt.
Jadi berdasarkan uraian tersebut di atas disimpulkan bahwa semua parameter kualitas air pada masa pemeliharaan larva ikan bandeng berada pada kisaran optimal.
4.5. Pemanenan Nener (Benih)
Pemanenan adalah suatu unit kegiatan akhir dalam pembenihan ikan bandeng. Panen larva ikan bandeng dilakukan dengan cara pemanenan total kemudian dilakukan pemeliharaan selanjutnya di bak sortiran selama 3 sampai 5 hari. Pemanenan larva dimulai dengan menurunkan volume air sebanyak 80%, kemudian kelambu panen dipasang pada ujung pipa pengeluaran air bak larva. Jika nener sudah terlihat banyak yang tertampung di dalam kelambu panen segera diseser dan dipindahkan ke bak sortiran untuk disortir dan dipelihara.
Waktu pemanenan larva dilakukan pada pagi hari. Pemanenan dilakukan pada saat larva berumur 17 hari (D17) sampai larva berumur 20 hari (D20) atau ketika benih telah mencapai ukuran 12 mm dengan berat 0,006 gram dan saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa. Menurut Anonim (2010), nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12-16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25 hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa. Kelangsungan hidup larva ikan bandeng dapat dilihat Tabel 9 berikut ini.
Tabel 9. Kelangsungan Hidup Larva Ikan Bandeng.
| No. Bak | Jumlah Penebaran (Butir) | Jumlah Larva (Ekor) | Kelangsungan Hidup Larva (%) |
| 101 | 100.000 butir | 63.750 ekor | 83% |
| 102 | 100.000 butir | 61.200 ekor | 81% |
| 201 | 200.000 butir | 125.800 ekor | 84% |
| 202 | 200.000 butir | 129.200 ekor | 85% |
| | Jumlah Rata-rata SR Larva (%) | 83% | |
Berdasarkan data Tabel 7. diatas didapatkan bahwa survival rate (SR) yang diperoleh dalam kegiatan pemeliharaan larva ikan bandeng selama 20 hari yaitu sekitar 83%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva yang dihasilkan selama pemeliharaan larva ikan bandeng cukup berhasil, dimana diperkuat oleh pernyataan (Ghufron dan Kordi, 2005), menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva ikan bandeng selama 20 sampai 25 hari yaitu berkisar 65% sampai 80%. Tingginya tingkat kelangsungan hidup larva ikan bandeng diakibatkan oleh pengelolaan air media pemeliharaan yang terkontrol serta jumlah dan jenis pakan yang diberikan pada larva yang sudah tepat sesuai dengan kebutuhannya. Pemanenan larva ikan bandeng menggunakan kelambu panen dapat dilihat pada Gambar 5. berikut.
Gambar 5. Panen Larva dengan Kelambu Panen
V. KESIMPULAN DAN SARAN
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada halaman sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Teknik pengelolaan larva ikan bandeng yang dilakukan di PT. Esaputlii Prakarsa Utama yaitu secara alami.
2. Kepadatan telur yang ditebar pada bak penetasan atau pemeliharaan larva yaitu sekitar 12 sampai 20 butir/liter air.
3. Untuk memadatkan populasi Rotifer diberikan bangkai ayam pada bak kultur Rotifer.
4. Untuk menjaga kualitas air media pemeliharaan agar tetap optimal bagi pemeliharaan larva ikan bandeng yaitu dengan cara penyiponan, pergantian air, dan sirkulasi air.
5. Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada larva ikan bandeng antara lain jenis makanan, kandungan gizi, jumlah pakan, waktu dan frekuensi serta cara pemberian pakan.
6. Pertumbuhan rata-rata panjang larva ikan bandeng yang didapatkan yaitu rata-rata 5,0 sampai dengan 16,2 mm dari umur 1 sampai 25 hari.
7. Rata-rata tingkat kelangsungan hidup (SR) larva ikan bandeng akhir pemeliharaan adalah 83%.
8. Untuk mendapatkan tingkat kelangsungan hidup (SR) yang tinggi yang perlu diperhatikan yaitu manajemen pakan dan manajemen kualitas air yang baik.
5.2. Saran
1. Untuk menunjang keberhasilan dalam pembenihan ikan bandeng perlu dilakukan pengelolaan larva yang baik.
2. Untuk mendapatkan tingkat kelangsungan hidup (SR) yang tinggi yang perlu diperhatikan yaitu manajemen pakan dan manajemen kualitas air yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anindiastuti, 1995. Pemeliharaan Larva Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskall). Balai Budidaya Air Payau, Jepara.
Anonim, 2010. Derektorat Jendral Perikanan Budidaya. 2010. Budidaya Bandeng. Jakarta.
Aslamyah, S. 2008. Pembelajaran Berbasis SCL pada Mata Kuliah Biokimia Nutrisi. UNHAS. Makassar.
Ayusta, I.M.P, 1991. Pengaruh Pemberian Pakan Alami Terhadap Kelangsungan Hidup Larva Bandeng. Skripsi Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Denpasar. 12 Hal.
Cholik, 1990. Penetasan Telur dan Perawatan Larva Bandeng di Pembenihan.
Effendi, I., 1978. Biologi Perikanan (Bag. I Study Natural History). Fakultas Perikanan, IPB. Bogor. 105 hal.
Kordi dan Ghufron. 2005. Budidaya Ikan Laut. Rineka Cipta. Jakarta.
Murtidjo, B. A,. 2002. Bandeng. Kanisius. Yogyakarta
Purnomowati, I., Hidayati, D., dan Saparinto, C. 2007. Ragam Olahan Bandeng. Kanisius. Yogyakarta.
Rinrin Sriyani, 1993. Perkembangan dan Kelangsungan Hidup Embrio dan Larva Bandeng (Chanos-chanos Forsk). Skripsi. Program Studi Budidaya Perikanan. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.
Rumiyati, S. 2012. Budidaya Bandeng Super. Pustaka Baru Press. Yogyakarta.
Sudradjat, A. 2008. Budidaya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Willyarta Yudisti, 2010. Teknik budidaya Chlorella sp. dan Beberapa Pemanfaatannya dalam Kehidupan Sehari-hari. Program Studi Teknologi Akuakultur Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta. Jakarta.
Zakaria. 2010. Petunjuk Teknik Budidaya Ikan Bandeng. Dari http://cvrahmat.blogspot.com/2011/04/budidaya-ikan-bandeng.html (Diakses tanggal 15 Juli 2013).
Lampiran 1. Denah Lokasi PT. Esaputlii Prakarsa Utama (Benur Kita)
Lampiran 2. Tahap Perkembangan Larva Ikan Bandeng
| Umur Larva (hari) | Tahap Perkembangan Larva |
| 1 3 5 – 8 12 13 – 21 | Mulut dan anus masih tertutup, larva berwarna bening tanpa pigmen, mata aktif bergerak, masih memiliki kuning telur. Kuning telur sudah habis terserap, aktif mencari makan. Larva bersifat fototaksis dan rheotaksis Berenang bergerombol mengelilingi dinding bak, dan melawan arus. Organ tubuh sudah lebih lengkap, tidak lagi peka terhadap cahaya, pigmentasi lebih jelas. |

salam kenal
BalasHapusPutra Bugis
gan. kalo mau belajar langsung maslah pembnihan bandeng dmana y gan.?
BalasHapusDapatkan bibit bandeng kualitas super dengan menghubungi kami di 081338277022
BalasHapusBagus sangat membantu 👍😊
BalasHapus